Permainan Voli yang Mematikan: Siswa SMP Tewas Dibunuh oleh Temannya

Advertisements
Advertisements

Garut, Jawa Barat Detikbabel.com – Sebuah tragedi mengerikan terjadi di Garut, Jawa Barat, ketika seorang siswa SMP berusia 13 tahun yang dikenal sebagai AG, atau Agum Gumelar, tewas dibunuh oleh temannya sendiri. Pembunuhan ini, yang sangat tidak biasa di kalangan remaja, dipicu oleh perasaan sakit hati yang timbul ketika bola voli yang mereka mainkan bersama mengenai wajah pelaku sebanyak tiga kali.

Kasus ini mengungkapkan sisi gelap dari konflik antara teman-teman yang seharusnya diselesaikan dengan damai. Kasat Reskrim Polres Garut, AKP Ari Rinaldo, menjelaskan bahwa terduga pelaku, yang juga masih berusia 12 tahun, merasa sangat sakit hati dan dendam terhadap AG setelah insiden tersebut. Mereka awalnya bermain voli bersama sebelum perasaan sakit hati terjadi.

Peristiwa berlanjut ketika keduanya berenang di Sungai Cimanuk bersama teman lainnya. AG hanyut saat berenang, tetapi terduga pelaku menolongnya. Sayangnya, setelah membantu AG, pelaku mengambil tindakan yang tragis dengan mengambil nyawa temannya sendiri. AKP Ari menjelaskan bahwa saat autopsi dilakukan, terungkap bahwa AG meninggal karena luka sayatan di lehernya.

Menurut penyelidikan, tidak ada pertengkaran yang terjadi antara korban dan tersangka sebelum peristiwa tersebut. Motif pelaku hanyalah perasaan tidak puas dan kesempatan yang muncul ketika mereka berdua berenang.

Keluarga korban telah mengalami trauma mendalam akibat kejadian ini, dan pihak berwenang berkomitmen untuk memberikan pendampingan trauma healing. Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPA) Kabupaten Garut, Rahmat Wibawa, mengatakan bahwa Peraturan Daerah (Perda) tentang Perlindungan Perempuan dan Anak harus dijalankan dengan lebih serius. Setiap desa dan kelurahan di Garut harus memiliki kelompok yang bertugas dalam melindungi perempuan dan anak-anak.

Walau demikian, kelompok ini memiliki sumber daya yang terbatas, sehingga upayanya sejauh ini hanya terbatas pada penyuluhan dan sosialisasi. Rahmat Wibawa menekankan perlunya lebih banyak kerja nyata di tingkat desa dan kelurahan untuk melindungi perempuan dan anak-anak. Ia juga menyarankan agar sosialisasi dilakukan melalui media sosial, mengingat banyak remaja yang memiliki akses ke internet.

Kasus ini menunjukkan pentingnya mengatasi konflik di antara remaja dengan cara yang lebih positif dan mendidik, sambil mengingatkan pentingnya peran orang tua, sekolah, dan masyarakat dalam membimbing dan mendukung perkembangan anak-anak agar tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab dan penuh kasih. (Sumber : Tribun, Editor : M Taufik )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *