Pejabat Bangka Barat yang Turun ke Sajadah: Cerita Haru Safari Ramadhan di Desa Sinar Surya

Advertisements
Advertisements

DETIKBABEL.COM, Tempilang, Bangka Barat — Ramadhan selalu punya cara sendiri mempertemukan kekuasaan dan rakyat dalam satu saf. Rabu sore (25/2/2026), di Masjid Nurul Falah, Dusun Dam III, Desa Sinar Surya, sekitar 235 jemaah menyaksikan negara hadir bukan lewat baliho atau janji, tetapi lewat tangan yang menyalami, mata yang menatap, dan bantuan yang menyentuh hati.

Di bawah lengkung mihrab, Wakil Bupati Bangka Barat H. Yusderahman berdiri tanpa jarak. Safari Ramadhan 1447 H/2026 bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjelma panggung kemanusiaan.

“Kami tidak ingin Ramadhan hanya menjadi seremonial. Kami ingin Ramadhan menjadi jembatan antara kebijakan dan kenyataan hidup rakyat,” ujar Yusderahman.

“Kalau rakyat menangis diam-diam, pemerintah harus datang lebih dulu sebelum air mata itu jatuh.” tambahnya.

Kalimat itu tidak berhenti sebagai retorika. Ia menjelma tindakan.

Dua kursi roda diserahkan di hadapan jemaah. Seorang ibu menahan tangis ketika melihat suaminya didorong perlahan.

“Ini bukan kursi roda, Pak. Ini kaki baru bagi keluarga kami,” ucapnya lirih.

Bersama PT. Sawindo Kencana dan BAZNAS, bantuan mengalir mushaf Al-Qur’an, kitab hadis, perlengkapan ibadah, dan 50 paket sembako. Sebanyak 20 mustahiq menerima zakat langsung.

 

Ketua BAZNAS, Drs. Lili Suhendra NATO, berkata:

“Zakat adalah bukti iman yang bekerja. Kami ingin zakat menjadi cahaya yang menerangi dapur-dapur yang lama gelap.”

Wakil Ketua Pengumpulan H. Hasyim Baharudin menambahkan:

“Ketika ASN dan masyarakat percaya menyalurkan zakat lewat BAZNAS, itu bukan hanya angka. Itu amanah.”

Wakil Ketua Distribusi Wasis Utama Edi menegaskan:

“Zakat adalah strategi kesejahteraan. Ia lebih kuat dari pidato, karena ia langsung sampai ke dapur rakyat.”

Wakil Ketua Keuangan H. Zumrowi Achyar berkata:

“Jika sudah nisab, jangan tunggu kaya. Tunaikan zakat, karena di setiap rezeki kita ada hak orang lain.”

Wakil Ketua Administrasi H. Nurzali Hamid memastikan:

“Kami jaga amanah ini seperti menjaga kehormatan sendiri. Tepat sasaran adalah ibadah kami.”

Apa yang terjadi di Sinar Surya adalah praktik nyata teori zakat produktif seperti dijelaskan Beik dan Arsyianti dalam Ekonomi Zakat bahwa zakat mampu menjadi instrumen distribusi kesejahteraan. Ia juga sejalan dengan gagasan Mustafa Edwin Nasution tentang zakat sebagai pilar pemberdayaan umat.

Di Tempilang sore itu, teori turun dari buku ke lantai masjid.

Kehadiran Polsek Tempilang bersama Satpol PP Kabupaten Bangka Barat menghadirkan rasa aman tanpa intimidasi.

 

Seorang warga berkata:

“Kami jarang lihat polisi duduk makan bersama rakyat. Hari ini kami merasa dilindungi, bukan diawasi.” tutur dengan nada takjub bercampur keheranan.

Pendekatan humanis ini mencerminkan konsep social capital Robert Putnam dalam Bowling Alone bahwa kepercayaan sosial lahir dari kebersamaan nyata.

Di Masjid Nurul Falah, pemerintah, aparat, ulama dan rakyat berada dalam satu ruang spiritual yang sama.

Tausiah yang disampaikan Hendra Muslaili menggetarkan hati.

“Pemimpin terbaik bukan yang paling kuat suaranya, tetapi yang paling lembut tangannya pada rakyat.” jelas Muslaili dengan tegas.

Di serambi masjid, pejabat, aparat, tokoh agama dan masyarakat duduk sejajar menikmati hidangan sederhana.

Tidak ada sekat protokoler. Tidak ada batas simbolik. Hanya manusia yang saling mendoakan.

Safari Ramadhan di Sinar Surya membuktikan bahwa ketika Pemerintah Kabupaten Bangka Barat bergerak bersama BAZNAS dan kepolisian sektor, kebijakan tidak berhenti di meja kantor.

Ia turun ke sajadah.

Ia mengetuk pintu rumah miskin.

Ia mengangkat kursi roda.

Ia membagikan sembako menjelang azan Magrib.

“Kami ingin Bangka Barat dikenal bukan karena gedungnya, tetapi karena kepeduliannya,” ujar Yusderahman.

“Kalau rakyat merasa diperhatikan, pembangunan akan berjalan tanpa paksaan.” tambahnya.

Di tengah efisiensi anggaran nasional dan tekanan ekonomi, sinergi lintas sektor ini tampil sebagai jawaban bahwa negara tidak boleh absen dari ruang sunyi rakyat.

Ramadhan di Desa Sinar Surya bukan sekadar agenda. Ia adalah deklarasi empati.

Di bawah lampu masjid, doa-doa warga naik perlahan.

Di antara doa itu, ada harapan agar kepemimpinan yang hadir menyentuh hati ini tidak berhenti sebagai cerita satu sore tetapi menjadi tradisi Bangka Barat selamanya.