
Detikbabel.com, Bangka Belitung – Seringkali liburan kenaikan kelas dijadikan momen untuk beristirahat sepenuhnya, bersantai tanpa jadwal, atau sekadar bermain sepuasnya setelah berbulan-bulan menempuh pendidikan. Namun hal berbeda ditunjukkan oleh seorang santri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Islamic Center Sungailiat, Bangka. Dalam waktu hanya satu bulan liburan, ia mampu menyelesaikan beragam capaian luar biasa—mulai dari penerbitan buku, tugas kenegaraan, hingga peran sebagai duta nasional. Semua itu, menurut pengakuannya, tak lepas dari tempaan kedisiplinan waktu yang ia dapatkan selama dua tahun menuntut ilmu di pesantren tercinta.
“Kalau bukan karena nilai kedisiplinan yang ditanamkan selama dua tahun di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Islamic Center Sungailiat, mungkin saya akan berat menjalankan semua kegiatan ini,” ujarnya ungkap salah satu santri Mts Plus Bahrul Ulum yang berada di naungan Pondok Pesantren Bahrul ulum dengan penuh rasa syukur. Ia menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam kepada seluruh ustadz, ustadzah, dan tenaga pendidik pesantren yang telah membentuk karakter dirinya. Menurutnya, aturan, rutinitas, dan manajemen waktu yang diajarkan di lingkungan pesantren menjadi bekal paling berharga yang kini bisa diterapkan dalam kehidupan nyata, khususnya di dunia literasi dan pengabdian masyarakat.
Minggu pertama liburan telah menjadi bukti nyata keseriusannya. Ia menyelesaikan penulisan buku keduanya yang berjudul KELEKAK (KELak kEK ikAK)—sebuah karya tulis yang kini sedang dalam proses pengurusan ISBN dan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), dan Insya Allah akan segera terbit. Buku ini bukanlah karya tunggal, melainkan hasil kolaborasi berharga bersama ayahnya, F. Majid.
KELEKAK menghimpun dua puluh kisah legendaris dari tanah Bangka, yang menyuguhkan beragam alur menyentuh hingga penuh makna. Mulai dari kisah anak yang dirundung karena selalu kalah, saudagar licik yang menukar cinta dengan tipu daya, pemuda sombong yang berani menantang petir di puncak bukit, hingga kisah haru seorang adik yang rela mengorbankan diri demi membebaskan kampung halamannya dari kutukan kuno. Setiap cerita di dalamnya mengajak pembaca menyusuri jejak masa lalu, mengungkap rahasia di balik nama tempat, istilah, serta kebiasaan masyarakat Bangka yang masih lestari hingga hari ini.
Memasuki minggu kedua, tanggung jawab baru menyambutnya sebagai Duta Dongeng Cinta Bangga Paham Rupiah (CBP) Bank Indonesia Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2026. Ia berkesempatan berkunjung ke Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri)—Badan Usaha Milik Negara yang bertugas mencetak mata uang Rupiah serta membuat dokumen negara dengan fitur keamanan tertinggi.
Di sana, ia melihat langsung proses percetakan uang yang menjadi darah kehidupan perekonomian Indonesia, bertanya secara mendalam mengenai alur dan sistem keamanannya, serta mempelajari materi Cinta, Bangga, Paham Rupiah secara lebih komprehensif. “Saya pulang dengan pengalaman baru yang tidak akan terlupakan,” kenangnya. Ia pun memohon doa dari seluruh masyarakat, agar dapat memberikan usaha terbaik saat mewakili Bangka Belitung berkompetisi di tingkat nasional nanti. Kunjungan dilanjutkan ke Museum Bank Indonesia, yang semakin meyakinkannya bahwa edukasi ekonomi dan keuangan bisa disampaikan dengan cara seru, kreatif, dan penuh makna—sesuatu yang ingin ia wujudkan lewat kegiatan mendongeng, demi menjaga kedaulatan ekonomi bangsa.
Minggu ketiga, keahlian mendongengnya kembali diuji saat tampil di panggung Nusantara Unity Fest 2026 di Alun-alun Kota Pangkalpinang, yang diselenggarakan Forum Pembauran Kebangsaan Provinsi Babel. Sebagai bagian dari Kampung Dongeng Indonesia Bangka Belitung sejak tahun 2023—komunitas yang bergerak di bidang pembentukan karakter, kepedulian sosial, dan pemberdayaan dunia anak—ia kembali membuktikan bahwa cerita bisa menjadi jembatan persatuan.
Menutup minggu-minggu berharga itu, ia dinyatakan lolos seleksi program penulisan berbasis konten budaya lokal tahun 2026 yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan Provinsi Babel. Di acara penutupan bimbingan teknis, ia menyerahkan secara langsung buku solo pertamanya berjudul Melodi Perjalanan Kecil. “Terima kasih Dinas Perpustakaan Provinsi Babel atas kesempatan ini. Semoga ilmu yang dibagikan narasumber dan sesama peserta bisa saya terapkan dalam merawat budaya lokal lewat literasi,” ucapnya.
Puncak dari rangkaian capaian ini adalah amanah baru sebagai salah satu Duta Literasi Remaja Indonesia Perwakilan Bangka Belitung. Setelah mengikuti proses pembinaan ketat dan terpilih menjadi finalis dari seluruh penjuru Nusantara, ia kini sedang menjalankan program sebagai change of agent untuk memajukan minat baca masyarakat, meningkatkan keterampilan literasi, serta menyuarakan pentingnya pendidikan bagi generasi muda.
Satu bulan liburan yang seharusnya waktu istirahat, ia ubah menjadi ladang prestasi dan pengabdian. Ia kembali menegaskan: semua capaian ini tidak lepas dari disiplin waktu yang ditanamkan dua tahun di pesantren, dukungan keluarga, serta kepercayaan yang diberikan berbagai pihak. Kisah santri ini menjadi bukti nyata: bekal karakter yang kuat, ditambah kesempatan yang ada, mampu melahirkan perubahan yang bermanfaat bagi banyak orang. Semoga Pondok Pesantren Bahrul Ulum Islamic Center Sungailiat Bangka dapat terus mencetak pribadi yang berkompetensi, berkarakter dan siap beradaptasi sesuai perkembangan zaman. (Red/*)






