Detikbabel.com, Bangka Belitung – Radioaktivitas bukanlah sesuatu yang hanya ditemukan di reaktor nuklir. Sifat alami ini tersebar di berbagai material yang ada di sekitar manusia, mulai dari tanah, batuan, dan mineral tertentu, hingga sejumlah perangkat elektronik yang digunakan sehari-hari.
Selama ini radioaktivitas kerap diasosiasikan dengan energi nuklir. Namun, fakta yang jarang diketahui adalah bahwa proses pembakaran batu bara di pembangkit listrik tidak menghilangkan unsur-unsur radioaktif tersebut. Sebaliknya, sebagian di antaranya justru terkonsentrasi dalam abu sisa pembakaran yang dikenal sebagai fly ash dan bottom ash.
Dikutip dari Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), batu bara mengandung sejumlah kecil unsur radioaktif alami yang terdapat di lingkungan, termasuk uranium dan thorium. Ketika batu bara dibakar untuk menghasilkan listrik, unsur-unsur tersebut tidak ikut musnah, melainkan terkonsentrasi dalam limbah pembakaran seperti fly ash (abu terbang), bottom ash, dan boiler slag.
“Coal contains trace amounts of naturally occurring radioactive elements,” tulis EPA dalam penjelasannya mengenai limbah pembangkit listrik tenaga batu bara. EPA juga menyebut bahwa proses pembakaran batu bara menghasilkan limbah yang mengandung Naturally Occurring Radioactive Material (NORM), atau material radioaktif yang secara alami terdapat di lingkungan.
Temuan serupa disampaikan oleh U.S. Geological Survey (USGS). Dalam laporan ilmiahnya, lembaga tersebut menjelaskan bahwa batu bara mengandung unsur radioaktif alami seperti uranium (U), thorium (Th), serta produk peluruhannya seperti radium (Ra) dan radon (Rn).
Menurut USGS, selama proses pembakaran, sebagian besar uranium, thorium, dan produk peluruhannya dilepaskan dari matriks batu bara dan kemudian terdistribusi ke dalam gas maupun residu padat hasil pembakaran. Akibatnya, konsentrasi unsur radioaktif dalam abu batu bara dapat menjadi lebih tinggi dibandingkan pada batu bara sebelum dibakar.
Fakta ini tidak berarti bahwa abu batu bara otomatis berbahaya bagi masyarakat. Namun, temuan tersebut menunjukkan bahwa radioaktivitas bukanlah sesuatu yang hanya terkait dengan energi nuklir. Bahkan sumber energi yang telah digunakan selama lebih dari satu abad, seperti batu bara, juga menghasilkan limbah yang mengandung unsur radioaktif alami.
Bagi para ahli energi, fakta ini menjadi pengingat bahwa setiap teknologi pembangkit memiliki risiko dan tantangannya masing-masing. Karena itu, diskusi mengenai energi seharusnya didasarkan pada data ilmiah dan pengelolaan risiko, bukan semata-mata pada persepsi atau ketakutan terhadap istilah “radioaktif”. (KBO Babel)












