Bang Udin Walikota Pangkalpinang: Pemimpin yang Anti Kritik Justru Rentan Korupsi

Advertisements
Advertisements
Caption : Prof Saparudin Walikota Pangkalpinang (tengah) saat menerima kunjungan silaturahmi pengurus PJS Babel, Rikky Fermana (kiri) dan Muhamad Zen (Kanan)

DETIKBABEL.COM|PANGKALPINANG — Wali Kota Pangkalpinang, Bang Udin, menegaskan bahwa seorang pejabat publik tidak boleh alergi terhadap kritik, termasuk dari kalangan wartawan. Menurutnya, kritik yang tajam—even yang terasa tendensius—merupakan bagian penting dari mekanisme kontrol sosial dalam menjaga integritas pemerintahan.

Hal itu disampaikan Bang Udin saat menerima silaturahmi pengurus Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yakni Ketua PJS Babel Rikky Fermana dan Sekretaris Muhamad Zen, di ruang kerjanya, Rabu (28/4/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Bang Udin yang juga dikenal sebagai Prof Saparudin menyoroti fenomena hubungan pejabat dengan media yang kerap disalahartikan. Ia menilai, pemimpin tidak perlu merasa bangga jika mampu “menguasai” media atau mengendalikan wartawan.

“Pemimpin itu tidak perlu disebut hebat kalau bisa mengatur media. Justru itu berbahaya. Kita bisa terlena dengan laporan asal bapak senang (ABS),” tegasnya.

Ia menjelaskan, pemberitaan yang tidak kritis justru berpotensi menyesatkan arah kebijakan. Tanpa adanya kontrol yang tajam dari media, seorang kepala daerah bisa kehilangan kemampuan untuk membedakan mana kebijakan yang benar-benar berpihak kepada masyarakat dan mana yang hanya sekadar menyenangkan lingkaran kekuasaan.

Bang Udin bahkan mengaitkan lemahnya fungsi kontrol media dengan maraknya praktik korupsi di sejumlah daerah. Ia menilai, banyak kasus yang akhirnya terungkap melalui operasi tangkap tangan (OTT) oleh lembaga seperti KPK dan Kejaksaan berawal dari minimnya kritik dan pengawasan publik.

“Kalau media sudah tidak kritis, itu justru jadi perhatian aparat penegak hukum dan LSM anti korupsi. Karena di situ biasanya ada sesuatu yang tidak sehat,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa karakter masyarakat Bangka Belitung, khususnya Pangkalpinang, yang dikenal blak-blakan dalam menyampaikan pendapat, seharusnya tidak dipersepsikan sebagai bentuk kebencian. Sebaliknya, hal itu merupakan wujud kepedulian terhadap jalannya pemerintahan.

“Masyarakat kita ini terbuka. Kalau mereka kritik keras, itu tandanya mereka peduli. Justru yang selalu bicara baik-baik, itu yang harus diwaspadai,” kata Bang Udin.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pesan kuat bagi insan pers untuk tetap menjaga independensi dan keberanian dalam menjalankan fungsi jurnalistik. Ia berharap media tidak terjebak dalam pola pemberitaan yang hanya menyenangkan penguasa, tetapi tetap berpihak pada kepentingan publik.

Dengan sikap terbuka terhadap kritik, Bang Udin menegaskan komitmennya untuk membangun tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Baginya, sinergi antara pemerintah dan pers yang sehat hanya dapat terwujud jika kedua belah pihak sama-sama menjunjung tinggi integritas dan kepentingan masyarakat luas. (Red/*)