DETIKBABEL.COM, PANGKALPINANG — Forum Pencucian Pasir Tailing (FP2T) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akhirnya angkat bicara terkait insiden yang melibatkan pihak Satlap Tricakti pada 7 Maret 2026 lalu. Dalam pernyataan resminya, FP2T menyampaikan permohonan maaf sekaligus menegaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi tanpa adanya perencanaan maupun koordinasi terorganisir dari pihak manapun.
Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Ketua Umum FP2T Babel, Akhmad Djuarsyah, saat menggelar konferensi pers di salah satu warung kopi di Pangkalpinang, Rabu (29/4/2026).
Dalam keterangannya, Akhmad menekankan bahwa kejadian tersebut semestinya menjadi refleksi bersama, bukan justru memperpanjang konflik atau memperkeruh suasana di tengah masyarakat.
“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada rekan-rekan Satlap Tricakti. Insiden itu terjadi di luar kendali dan tidak direncanakan. Kami berharap semua pihak dapat mengambil pelajaran berharga dari peristiwa ini,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga sikap bijak dan tidak terpancing emosi, terlebih dalam situasi yang berpotensi memicu gesekan sosial. Menurutnya, kondisi yang kondusif hanya bisa tercipta jika semua pihak mampu menahan diri dan mengedepankan komunikasi yang sehat.
Lebih lanjut, FP2T Babel mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, untuk memperkuat rasa persatuan dan kesatuan. Akhmad menegaskan bahwa perbedaan kepentingan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menyalahkan atau memicu permusuhan.
“Jangan sampai persaudaraan yang sudah terbangun dirusak oleh provokasi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kita harus tetap menjaga marwah daerah ini sebagai masyarakat yang bermartabat,” tegasnya.
Dalam suasana yang masih menyisakan ketegangan pasca-insiden, FP2T juga menyerukan kepada pihak-pihak yang sempat berseteru agar menahan diri, menghindari sikap arogan, serta mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok.
Akhmad turut berharap agar pimpinan Satgas Tricakti dapat menyikapi persoalan ini secara bijaksana dan proporsional, sehingga tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa menjaga stabilitas daerah merupakan tanggung jawab bersama.
“Keamanan dan ketertiban Bangka Belitung adalah kewajiban kita semua. Kami berharap kejadian ini tidak terulang kembali dan menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan antar pihak,” tutupnya.
Pernyataan FP2T ini menjadi sinyal penting bagi upaya meredam potensi konflik lanjutan, sekaligus membuka ruang rekonsiliasi di tengah dinamika sosial yang sempat memanas. (Jefri Oktaviani)






