Detikbabel.com, Bangka Barat – Peristiwa penenggelaman satu unit ponton Tambang Inkonvensional (TI) Apung yang diduga berkaitan dengan seorang oknum anggota TNI di wilayah Kabupaten Bangka Barat kembali menjadi perhatian publik. Insiden yang terjadi di Perairan Enjel, kawasan Kembang Masam, Kecamatan Mentok, pada 4 Juni 2026 itu bukan hanya memicu perdebatan mengenai aktivitas tambang di laut, tetapi juga memunculkan dugaan keterlibatan aparat serta isu penembakan yang hingga kini belum mendapatkan penjelasan resmi. Kamis (18/6/2026)
Informasi yang dihimpun dari sejumlah warga menyebutkan, sekelompok masyarakat yang selama ini mengaku resah terhadap aktivitas pertambangan di kawasan tersebut mendatangi lokasi operasi ponton pada siang hari. Kedatangan warga itu berujung pada aksi penenggelaman satu unit ponton yang berada di area tambang.
Tak hanya itu, satu unit ponton lainnya juga disebut sempat diamankan warga saat situasi di lokasi memanas. Warga menilai langkah tersebut merupakan bentuk protes atas aktivitas pertambangan yang dianggap masih berlangsung meski kawasan tersebut sebelumnya telah beberapa kali menjadi perhatian masyarakat dan aparat penegak hukum.
Yang membuat peristiwa ini semakin menyita perhatian adalah munculnya informasi mengenai dugaan penembakan saat warga mendatangi lokasi. Berdasarkan keterangan yang berkembang di tengah masyarakat, seorang oknum yang disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan aktivitas tambang tersebut diduga sempat melepaskan tembakan ketika situasi mulai tidak terkendali.
Meski demikian, hingga kini belum ada keterangan resmi dari aparat berwenang mengenai kebenaran informasi tersebut, termasuk jenis senjata yang diduga digunakan. Sejumlah warga bahkan menyebut senjata tersebut bukan merupakan senjata organik dinas, namun informasi itu juga masih sebatas keterangan yang berkembang di lapangan dan belum terverifikasi secara resmi.
“Warga sudah lama resah. Aktivitas tambang masih terlihat beroperasi sehingga masyarakat akhirnya turun langsung ke lokasi,” ujar salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan publik mengenai dugaan keterlibatan oknum aparat dalam aktivitas pertambangan ilegal. Pasalnya, isu keterlibatan anggota TNI maupun aparat lainnya dalam praktik tambang tanpa izin selama ini kerap menjadi sorotan masyarakat, terutama di wilayah pertambangan timah di Bangka Belitung.
Sorotan tersebut semakin relevan mengingat Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan telah menegaskan komitmennya untuk menindak segala bentuk aktivitas ilegal yang merugikan negara, termasuk praktik pertambangan tanpa izin. Presiden juga menekankan bahwa anggota TNI harus menjaga kehormatan institusi dan tidak terlibat dalam kegiatan yang bertentangan dengan hukum.
Penegasan itu menjadi perhatian publik karena TNI sebagai alat pertahanan negara memiliki tugas pokok menjaga kedaulatan dan keamanan, bukan terlibat dalam aktivitas bisnis maupun pertambangan ilegal yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan serta mencederai kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.
Karena itu, masyarakat berharap seluruh informasi yang berkembang terkait insiden di Perairan Enjel dapat diusut secara transparan dan profesional. Tidak hanya terkait status ponton yang ditenggelamkan dan ponton yang diamankan warga, tetapi juga mengenai dugaan keterlibatan oknum aparat serta informasi penembakan yang disebut terjadi saat kejadian berlangsung.
Publik menilai keterbukaan informasi sangat penting untuk mencegah munculnya spekulasi yang semakin luas di tengah masyarakat. Jika memang terdapat pelanggaran hukum, masyarakat berharap proses penegakan hukum dapat dilakukan tanpa pandang bulu, siapa pun pihak yang terlibat.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Korem 045/Garuda Jaya, Kodim 0431/Bangka Barat maupun instansi terkait lainnya mengenai dugaan keterlibatan oknum anggota TNI dalam aktivitas tambang di Perairan Enjel maupun terkait informasi dugaan penembakan yang berkembang pasca-insiden penenggelaman ponton tersebut.
Masyarakat kini menunggu langkah dan penjelasan resmi dari pihak berwenang agar fakta sebenarnya dapat terungkap secara terang-benderang, sekaligus menjawab berbagai pertanyaan yang muncul setelah peristiwa yang menghebohkan warga pesisir Kembang Masam tersebut. (Red/*)












