Mengapa Kami Memilih Berjuang Bersama PJS?

Oleh : Ady Indra Pawennari Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri

Advertisements
Advertisements

DETIKABABEL.COM, KEPRI – Tanpa banyak drama, sebuah langkah besar hari ini resmi kami ayunkan. Saya bersama delapan jurnalis tangguh dari Provinsi Kepulauan Riau (Kepri)—Andi Gino, Amril Agin, Richard Nainggolan, Novianto, Iman Suryanto, dan Qori Ul Fitra—meneguhkan hati dan menyatakan sikap: kami resmi bergabung dengan organisasi pers Pro Jurnalismedia Siber (PJS).

Pernyataan sikap tertulis itu saya serahkan langsung kepada Ketua Umum PJS, Mahmud Marhaba, yang didampingi oleh Sekretaris Jenderal Riky Fermana dan Bendahara Umum Sofyan Siahaan.

Momen bersejarah yang penuh kehangatan ini berlangsung di Korla Coffee Batam, Kamis (17/9/2026). Sebuah tempat sederhana, namun menjadi saksi lahirnya komitmen besar demi marwah profesi.

Bukan Sekadar Pindah Rumah

Keputusan ini tentu memicu gelombang tanya. Banyak sejawat yang menyayangkan mengapa saya harus melangkah keluar dari kenyamanan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Namun, tidak sedikit pula yang memberikan dukungan moral yang luar biasa.

Bagi kami, ini bukan sekadar urusan berpindah “rumah”. Ini adalah pencarian tempat yang betul-betul memanusiakan anggotanya. Di PJS, kami menemukan visi yang tulus: merangkul wartawan lewat program Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang inklusif, serta memberikan benteng advokasi yang nyata bagi mereka yang kerap terancam hukum hanya karena menyuarakan kebenaran lewat karya jurnalistiknya.

Memang benar, saat ini PJS belum tercatat sebagai konstituen Dewan Pers. Namun, apakah itu menyurutkan langkah kami? Sama sekali tidak.

Api semangat kami justru makin membara saat melihat kenyataan bahwa ada ribuan rekan sejawat dari 23 provinsi di Indonesia yang memiliki detak jantung yang sama. Kami tidak sendiri. Kami adalah bagian dari barisan pejuang yang menolak menyerah pada keadaan.

Ketulusan di Tengah Keterbatasan

Ada satu hal mendalam yang menggetarkan nurani saya hingga mantap memilih jalan ini. Ia adalah sosok Mahmud Marhaba, Sang Ketua Umum. Di tengah segala keterbatasan yang ada, perjuangannya yang tak kenal lelah adalah teladan nyata.

Saat dunia pers kerap kali memandang sebelah mata wartawan kecil, beliau justru hadir mengulurkan tangan dengan penuh ketulusan.
Kalimat beliau yang disampaikan dengan nada bergetar namun penuh penegasan, selalu terngiang di telinga saya:

“Jangan karena mereka belum kompeten, lalu kita abaikan dan kucilkan. Selama mereka masih menyandang profesi sebagai wartawan, maka tugas kita sebagai pimpinan organisasi pers membinanya hingga kompeten dan profesional.”

Kata-kata ini bukan sekadar pemanis retorika. Ini adalah tamparan sekaligus oase edukasi bagi industri pers kita hari ini. Di Indonesia, sangat jarang ada pimpinan organisasi pers yang berani secara terbuka merangkul wartawan yang belum bersertifikat—bukan untuk membiarkan mereka tanpa arah, melainkan untuk dididik, dibimbing, dan wajib diantarkan menuju gerbang kelulusan UKW.

Sebuah Ajakan untuk Menatap Masa Depan

Meninggalkan masa lalu memang tidak pernah mudah, namun masa depan pers yang berkeadilan harus dijemput. PJS mengajarkan kepada kita bahwa profesionalisme tidak dibangun dengan cara mengucilkan yang lemah, melainkan dengan cara merangkul, mendidik, dan bertumbuh bersama.

Hari ini, dari bumi Kepulauan Riau, kami telah menyalakan lilin perjuangan itu. Kami siap melangkah, siap ditempa, dan siap membuktikan bahwa jurnalisme yang berintegritas lahir dari organisasi yang memimpin dengan hati. (Red/*)