Andri Yanto Junior Manager PT Thorcon Power Indonesia Jadi Sorotan, Diskusi PLTN di Pangkalpinang Bangun Literasi Energi

Advertisements
Advertisements
Caption : Pengurus Fokus Babel dan KBO Babel pose bersama usai gelar rapat penutupan Panitia Bersama Diskusi Publik “Memahami Rencana PLTN di Bangka Belitung Diskusi Data dan Fakta,” di Aston Emidary Bangka Hotel dan Conference Center Pangkalpinang, Sabtu (7/2/2026)

Detikbabel.com, Pangkalpinang – Dinamika wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berbasis Thorium di Bangka Belitung terus menjadi perbincangan publik. Namun di tengah pro dan kontra yang berkembang, satu hal disepakati dalam Diskusi Publik bertajuk “Memahami Rencana PLTN di Bangka Belitung: Diskusi Data dan Fakta”—bahwa literasi harus didahulukan sebelum perdebatan diperluas.

Ketua Umum Fokus Babel (Forum Unit Kerja Sarjana Bangka Belitung), Ir. M. Natsir, bersama Penanggungjawab KBO Babel, Rikky Fermana, menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra yang telah menyukseskan kegiatan tersebut yang digelar di Aston Emidary Bangka Hotel and Conference Center, Sabtu (7/2/2026).

“Atas nama panitia, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada PT Thorcon Power Indonesia, PT Timah Tbk, Kopetindo, STIE IBEK, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, serta para pihak yang telah mendukung terselenggaranya diskusi ini,” ujar Natsir usai rapat penutupan panitia di Sekretariat KBO Babel, Air Itam, Pangkalpinang, Jumat (13/2/2026).

Menurut Natsir, forum tersebut bukan sekadar seremoni akademik, melainkan ruang pembelajaran kolektif yang menghadirkan data, tahapan teknis, serta perspektif energi jangka panjang bagi Bangka Belitung. Ia menegaskan, generasi muda daerah tidak boleh hanya menjadi penonton dalam isu strategis nasional seperti pengembangan PLTN Thorium.

Sorotan khusus dalam diskusi itu tertuju pada Andri Yanto, Junior Manager PT Thorcon Power Indonesia, yang juga putra daerah asal Desa Puding, Bangka. Kehadirannya sebagai narasumber dinilai memberi warna berbeda, karena ia memaparkan secara rinci tahapan survei tapak yang telah dilakukan perusahaan di Pulau Gelasa.

“Kami bangga ada anak muda Babel yang berkiprah di sektor teknologi strategis nasional dan bersedia berbagi ilmu. Paparannya membuka mata bahwa proses pembangunan PLTN masih melalui tahapan panjang, belum sampai pada tahap konstruksi. Namun kita sudah ramai berdebat tanpa data,” tegas Natsir.

Ia menilai, polemik yang berkembang selama ini seringkali tidak diimbangi pemahaman utuh mengenai aspek teknis, keselamatan, regulasi, hingga studi kelayakan yang harus dilalui sebelum proyek PLTN dapat direalisasikan.

“Bukan hanya yang menolak, bahkan yang tidak menolak pun banyak yang belum memahami secara komprehensif. Inilah pentingnya ruang literasi seperti diskusi publik ini,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Rikky Fermana. Ia mengungkapkan bahwa banyak peserta diskusi, khususnya mahasiswa, baru memahami secara mendasar apa itu teknologi PLTN Thorium, bagaimana konsep reaktornya, serta posisi Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis energi fosil di masa depan.

“Diskusi ini membuka wawasan bahwa persoalan energi bukan hanya soal hari ini, tetapi puluhan tahun ke depan. Kita mungkin belum tentu menikmati hasilnya, namun generasi mendatang yang akan merasakannya,” ujar Rikky.

Ia menegaskan bahwa forum tersebut tidak dimaksudkan untuk menggiring opini mendukung atau menolak. Sebaliknya, diskusi dihadirkan sebagai ruang netral agar masyarakat dapat mengambil sikap secara rasional dan berbasis data.

“Setuju atau tidak adalah hak setiap warga. Tetapi keputusan yang diambil harus berdasarkan informasi yang cukup. Jangan sampai kita mengambil sikap hanya karena emosi atau asumsi,” tegasnya.

Menurut Rikky, isu PLTN Thorium di Bangka Belitung memang akan terus diwarnai dinamika. Namun ia berharap perdebatan yang terjadi ke depan lebih substansial dan tidak terjebak pada narasi spekulatif.

Menutup pernyataannya, Natsir dan Rikky kembali menyampaikan terima kasih kepada Andri Yanto atas kontribusinya dalam diskusi tersebut.

“Terima kasih sudah hadir dan berbagi pengetahuan. Kehadiran Anda menjadi inspirasi bagi anak-anak muda Babel bahwa kita mampu bersaing di sektor teknologi maju,” pungkas keduanya.

Diskusi publik ini menjadi penanda bahwa Bangka Belitung tidak menutup diri terhadap isu energi masa depan. Namun satu pesan yang mengemuka: sebelum gaduh oleh opini, masyarakat perlu diperkaya oleh literasi dan pemahaman berbasis data serta fakta. (KBO Babel)