“23 TAHUN BANGKA SELATAN BERDIRI”:Rakyatnya sudah menikmati apa……..?

Advertisements
Advertisements

Oleh H.HATOMI

Pimpinan Media Sumber Berita

Focusberita.com

 

DETIKBABEL.COM, Sudah 23 tahun Bangka Selatan berdiri sebagai daerah otonomi. Angka itu bukan waktu yang sebentar. Dua dekade lebih seharusnya cukup untuk membuktikan bahwa pemekaran benar-benar membawa kesejahteraan. 

Tapi pertanyaannya sederhana dan menyakitkan:

apa yang benar-benar sudah dinikmati rakyat………?

Kalau kita jujur melihat realita di lapangan, masih terlalu banyak masyarakat Bangka Selatan yang hidup dalam kesulitan ekonomi. Lapangan kerja minim. Pengangguran masih nyata. Anak-anak muda banyak yang terpaksa merantau. Yang tinggal di kampung hanya bisa bertahan dengan kerja serabutan, tambang rakyat, atau sektor informal yang tidak pasti.

Pemerintah daerah seharusnya menjadi lokomotif pembangunan, bukan sekadar penonton keadaan.

Rakyatnya dilepaskan mencari usaha sendiri, kalau sudah ada usaha dipajak lagi.

Yang paling memalukan, jika pemimpin daerah hanya mampu mengemis dan berharap dana transfer dari pusat, maka itu bukan prestasi kepemimpinan.

Anak sekolah pun bisa membelanjakan uang kiriman, kalau hanya tugasnya menunggu dana turun lalu dibagi-bagi untuk proyek.

Pemimpin itu bukan “penghabis anggaran”. Pemimpin itu pencipta masa depan.

Daerah tidak akan maju kalau mentalnya terus seperti makan minta disuapi. Setiap tahun menunggu dana pusat, lalu bangga karena berhasil “mendapat anggaran besar”.

Padahal pertanyaannya bukan berapa besar dana masuk, tapi:

berapa besar dampaknya untuk rakyat?

berapa banyak lapangan kerja yang tercipta?

berapa banyak ekonomi rakyat yang terangkat?

Lebih parah lagi, dana yang seharusnya menjadi penyelamat rakyat itu justru sering diduga menjadi ladang bancakan.

Ketika dana pusat yang turun malah dikorupsi, maka itu bukan sekadar kejahatan hukum, tapi pengkhianatan terhadap penderitaan rakyat.

Rakyat disuruh sabar, disuruh hemat, disuruh ikhlas, ASN disuruh hemat TPP dipotong, sementara sebagian elit justru hidup nyaman dari uang yang seharusnya menjadi hak masyarakat.

Kalau setelah 23 tahun Bangka Selatan masih banyak rakyat yang susah, maka ini harus menjadi bahan evaluasi besar-besaran. Jangan sampai otonomi daerah hanya menjadi otonomi untuk pejabat, sementara rakyat hanya menjadi penonton pembangunan yang tak pernah mereka rasakan.

Bangka Selatan tidak butuh pemimpin yang pandai pidato, pandai pencitraan TAPI Bangka Selatan butuh pemimpin yang berani membuka lapangan pekerjaan, membangun industri, memperkuat UMKM, mengelola sumber daya secara serius, dan memastikan anggaran benar-benar turun ke rakyat, bukan berhenti di kantong-kantong tertentu.

Karena 23 tahun seharusnya sudah cukup untuk membuktikan:

pemekaran ini berkah atau hanya sekadar memindahkan kemiskinan ke wilayah baru.

Atau cuma berhura-hura menikmati dana kiriman dari pusat.