Oleh : Ir. M. Natsir (Guru Natsir)
DETIKBABEL.COM, Bangka Belitung – Dunia sedang melirik kembali energi nuklir. Bukan karena romantisme teknologi lama, melainkan karena kebutuhan nyata: listrik yang stabil, bersih, dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi digital. Baru-baru ini, media teknologi internasional TechCrunch memberitakan bahwa Radiant Nuclear, sebuah perusahaan rintisan asal Amerika Serikat, berhasil mengantongi pendanaan lebih dari USD 300 juta untuk mengembangkan reaktor nuklir berukuran kecil berdaya 1 MW.
Angka ini menyusul gelombang investasi besar lain di sektor nuklir, mulai dari X-energy hingga Aalo Atomics.
Fenomena ini menandai satu hal penting: energi nuklir kembali dianggap relevan dan menjanjikan, terutama di tengah lonjakan kebutuhan listrik global akibat perkembangan pusat data (data center), kecerdasan buatan (AI), dan industri digital lainnya.
Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa membutuhkan pasokan listrik yang nyaris tanpa henti—dan energi terbarukan seperti surya dan angin, meski penting, belum sepenuhnya mampu berdiri sendiri sebagai tulang punggung sistem kelistrikan.
Namun, TechCrunch juga memberi catatan kritis. Tidak semua perusahaan nuklir rintisan akan berhasil. Ada risiko euforia investasi, ada tantangan pembuktian teknologi, dan ada kenyataan bahwa nuklir bukan sekadar ide cemerlang, melainkan proyek jangka panjang yang menuntut kedisiplinan tinggi, baik dari sisi teknologi maupun regulasi.
Nuklir Bukan Lagi Wacana, Tapi Keniscayaan Indonesia tidak berada di luar arus global ini.
Pemerintah telah menetapkan bahwa nuklir akan masuk ke dalam bauran energi nasional mulai 2032. Target pertumbuhan ekonomi yang ambisius, program hilirisasi industri, serta kebutuhan energi yang terus meningkat menjadikan ketersediaan listrik sebagai faktor penentu daya saing nasional.
Di wilayah seperti Bangka Belitung, tantangan energi menjadi lebih nyata. Harga listrik yang relatif tinggi dan keterbatasan sistem interkoneksi membuat pengembangan industri skala besar menjadi tidak mudah.
Ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar fosil pun semakin sulit dipertahankan di tengah tuntutan pengurangan emisi karbon.
Dalam situasi seperti ini, energi nuklir hadir bukan sebagai solusi instan, melainkan sebagai jawaban jangka panjang yang rasional: stabil, bersih, dan mampu menyediakan daya besar secara berkelanjutan.

Belajar dari Dunia, Bergerak dengan Aturan
Berita tentang Radiant Nuclear memperlihatkan bagaimana negara-negara maju mendorong pengembangan teknologi nuklir dengan serius. Namun penting dipahami, keberanian tersebut tetap berdiri di atas fondasi regulasi yang ketat. Nuklir tidak dibangun dengan cara melompat tahapan.
Indonesia pun memiliki kerangka hukum yang jelas dalam pembangunan PLTN, mulai dari izin tapak hingga dekomisioning. Setiap tahap harus dilalui secara berurutan dan dievaluasi secara ketat oleh regulator.
Dalam konteks ini, kehati-hatian bukanlah kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab.
Di tengah diskursus publik yang sering kali dipenuhi ketakutan dan kesalahpahaman, PT Thorcon Power Indonesia memilih pendekatan yang tenang dan bertahap. Saat ini, Thorcon masih berada pada tahap awal perizinan, yakni evaluasi tapak untuk rencana pembangunan PLTN Thorcon 500 di Pulau Gelasa, Bangka Tengah. Fokus utamanya adalah memastikan keselamatan lokasi, kelayakan lingkungan, serta kesiapan sosial, sebelum melangkah ke tahap berikutnya.
Pendekatan ini mencerminkan komitmen untuk mematuhi regulasi nasional dan menempatkan keselamatan publik sebagai prioritas, bukan sekadar mengejar percepatan proyek.
Nuklir Lebih Aman dari yang Kita Kira
Persepsi publik kerap memandang nuklir sebagai sumber energi paling berbahaya. Padahal, data global menunjukkan sebaliknya. Jika diukur dari tingkat kematian per satuan energi yang dihasilkan, nuklir justru termasuk yang paling aman, jauh di bawah batubara, minyak, dan gas. Risiko memang ada, sebagaimana pada semua jenis energi, tetapi secara statistik dan teknologi, nuklir merupakan salah satu yang paling terkendali.
Tak mengherankan jika dalam forum internasional seperti COP28, negara-negara pengguna PLTN berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas nuklir secara signifikan hingga 2050. Dunia tidak sedang mundur dari nuklir, melainkan bergerak maju dengan teknologi yang lebih aman dan efisien.
Berani Memahami, Bukan Sekadar Takut
Gelombang investasi global di sektor nuklir, seperti yang ditunjukkan oleh Radiant Nuclear, adalah sinyal kuat bahwa dunia sedang mencari solusi energi yang realistis untuk masa depan. Indonesia, dengan kebutuhan energi yang terus tumbuh dan tantangan transisi yang kompleks, tidak bisa terus berada dalam posisi ragu.
Nuklir bukan tentang menantang alam, melainkan tentang mengelola teknologi dengan ilmu pengetahuan, regulasi, dan tanggung jawab.
Jika kita terus menunda karena ketakutan, kita berisiko kembali kehilangan momentum, seperti yang pernah terjadi pada industri strategis lainnya di masa lalu.
Kini saatnya melihat energi nuklir dengan kacamata yang lebih jernih: sebagai peluang untuk membangun kemandirian energi, memperkuat ekonomi daerah, dan menyiapkan masa depan yang lebih bersih. Bukan dengan tergesa-gesa, tetapi dengan langkah yang pasti, bertahap, dan berani memahami. (*)
————————————————
Penulis: Ir. M.Natsir, Ketua Umum Forum Kinerja Unit Sarjana Bangka Belitung (Fokus Babel), seorang organisasiator dan aktivis sosial kemasyarakatan yang aktif Bangka Belitung.






