Penulis: Anastasya Dwi Mulia. Mahasiswa Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Bangka Belitung.
DETIKBABEL.COM, Ada masa ketika kata “nuklir” hanya memunculkan satu bayangan: ledakan, bahaya, kehancuran. Sejarah Perang Dunia II menanamkan rasa takut kolektif terhadap energi dari inti atom — seolah-olah kekuatan itu diciptakan hanya untuk merusak kehidupan. Namun, sejarah selalu bergerak. Waktu, ilmu pengetahuan, dan kesadaran manusia membuktikan satu hal penting: apa yang dulu menakutkan, kini justru menjadi harapan.
Energi nuklir, yang dulu identik dengan perang, kini menjadi simbol peradaban yang matang secara teknologi. Dunia yang dulu menolak kini berlomba-lomba membangun reaktor baru. Dari Prancis hingga Korea Selatan, dari Uni Emirat Arab hingga Finlandia, nuklir telah menjadi tiang penopang transisi menuju masa depan tanpa karbon.
Kini, Indonesia pun bersiap menyusul dengan rencana Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama yang ditargetkan beroperasi pada 2032, kemungkinan besar di Pulau Bangka Belitung. Langkah ini bukan sekadar proyek energi, melainkan titik balik sejarah, di mana sains dan kepercayaan masyarakat berpadu untuk membawa negeri ini ke era baru: era energi bersih yang berdaulat.
Dari Ketakutan ke Keberanian Ilmiah
Ketakutan terhadap nuklir berawal dari konteks sejarah yang tragis. Dua bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945 meninggalkan trauma global. Dunia melihat bagaimana energi dari atom mampu menghancurkan kota dalam sekejap.
Namun, dari tragedi itu pula, lahirlah kesadaran baru: energi sebesar itu tidak harus menghancurkan, ia bisa membangun. Para ilmuwan mulai mempelajari cara mengendalikan reaksi fisi bukan untuk bom, tetapi untuk pembangkit listrik.
Pada tahun 1954, Uni Soviet meluncurkan PLTN komersial pertama di Obninsk. Disusul Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Mereka membuktikan bahwa reaksi nuklir yang terkendali dapat menghasilkan energi dalam jumlah besar tanpa membakar fosil dan tanpa emisi karbon.
Sejak itu, wajah energi dunia berubah. Kini lebih dari 440 reaktor beroperasi di 32 negara, menyuplai sekitar 10% listrik dunia. Di negara-negara maju, nuklir menjadi base load energy — sumber daya utama yang menjaga sistem listrik tetap hidup 24 jam sehari.
Mengapa Dunia Kembali Melirik Nuklir
Memasuki abad ke-21, dunia menghadapi krisis baru: pemanasan global. Energi fosil yang dulu menjadi tulang punggung ekonomi kini menjadi sumber polusi utama. Temperatur bumi naik, es kutub mencair, dan bencana iklim semakin sering terjadi.
Untuk mengatasinya, semua negara berkomitmen menuju Net Zero Emission (NZE), termasuk Indonesia pada tahun 2060. Namun, pertanyaannya: bagaimana menghasilkan listrik besar tanpa membakar batu bara dan gas?
Di sinilah nuklir kembali menjadi harapan.
Nuklir menawarkan tiga keunggulan utama:
Emisi karbon hampir nol. Reaksi fisi tidak melibatkan pembakaran, sehingga tidak menghasilkan karbon dioksida, nitrogen oksida, atau sulfur dioksida.
Daya tinggi dan stabil. PLTN dapat beroperasi 90% dari waktu dalam setahun, jauh lebih stabil dibanding energi surya atau angin yang bergantung pada cuaca.
Efisiensi luar biasa. Satu gram uranium bisa menghasilkan energi setara dengan tiga ton batu bara.
Dengan teknologi modern seperti Small Modular Reactor (SMR), semua keunggulan itu kini hadir dengan tingkat keamanan dan efisiensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan reaktor konvensional di masa lalu.
Bangka Belitung: Dari Pulau Timah ke Pulau Energi
Indonesia tidak memulai dari nol. Sejak 2011, Badan Tenaga Nuklir Nasional (kini BRIN) telah melakukan studi tapak di beberapa lokasi potensial, dan Pulau Bangka Belitung muncul sebagai kandidat paling ideal.
Ada banyak alasan ilmiah di balik pilihan itu:
– Kondisi geologi stabil, jauh dari patahan aktif.
– Ketersediaan air laut untuk sistem pendinginan reaktor.
– Kepadatan penduduk moderat, memudahkan zona keselamatan.
– Dukungan sosial lokal yang relatif tinggi terhadap rencana pembangunan PLTN.
Bangka selama ini dikenal sebagai pulau penghasil timah, logam yang menggerakkan ekonomi lokal. Kini, jika PLTN berdiri, Bangka akan dikenal bukan karena apa yang digali dari tanahnya, tetapi karena cahaya yang dipancarkan dari sains dan pengetahuannya.
Reaktor di Bangka bukan hanya simbol energi, tapi juga simbol perubahan cara berpikir bangsa — dari mengeksploitasi sumber daya alam menuju mengelola sumber daya pengetahuan.
Teknologi yang Semakin Aman dan Bersih
Ketakutan terhadap bahaya nuklir seringkali muncul dari bayangan masa lalu: Chernobyl, Fukushima, Three Mile Island. Namun, perlu diingat, ketiga insiden itu terjadi di masa teknologi reaktor masih terbatas.
Kini, dunia telah belajar banyak. Desain generasi keempat dan SMR (Small Modular Reactor) hadir dengan sistem keselamatan pasif artinya reaktor bisa mendinginkan diri sendiri tanpa campur tangan manusia jika terjadi gangguan. Komponen reaktor dibuat dalam modul tertutup di pabrik dengan standar tinggi, lalu dikirim ke lokasi. Reaktor bisa beroperasi di bawah tekanan rendah, dengan kemungkinan lelehan inti hampir nol.
Limbah radioaktif pun dikelola dengan standar internasional yang ketat. Seluruh bahan sisa disegel dalam wadah baja tebal dan disimpan di fasilitas khusus di bawah tanah yang terus dipantau. Tidak ada proses yang dibiarkan tanpa kendali. Di Indonesia, seluruh pengawasan dilakukan oleh BAPETEN, yang mengikuti standar keselamatan IAEA (International Atomic Energy Agency).
Dengan sistem seperti ini, risiko PLTN modern jauh lebih kecil dibanding industri minyak, batu bara, atau bahkan bendungan air.
Lebih dari Sekadar Listrik: Nuklir untuk Kehidupan
Sering kali masyarakat berpikir bahwa energi nuklir hanya digunakan untuk menghasilkan listrik. Padahal, manfaatnya jauh lebih luas.
1. Di bidang kesehatan, isotop radioaktif digunakan untuk diagnosis dan terapi kanker, sterilisasi alat medis, dan pelacakan penyakit.
2. Di pertanian, radiasi digunakan untuk menciptakan bibit unggul tahan hama dan meningkatkan hasil panen.
3. Di industri makanan, radiasi membantu memperpanjang umur simpan bahan pangan tanpa bahan kimia berbahaya.
4. Dalam bidang lingkungan, isotop digunakan untuk melacak pencemaran air dan mempelajari pergerakan sedimen laut.
Dengan adanya PLTN di Bangka, semua sektor ini akan mendapat manfaat langsung. Daerah itu bisa menjadi pusat riset dan inovasi nuklir Indonesia Timur, tempat para mahasiswa, peneliti, dan teknisi lokal dilatih untuk mengoperasikan teknologi energi paling canggih di dunia.
Energi untuk Ekonomi dan Kedaulatan
Presiden terpilih Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi 8% per tahun. Untuk mencapai itu, Indonesia membutuhkan pasokan energi besar, stabil, dan murah.
Listrik adalah darah ekonomi. Tanpa listrik yang cukup, industri macet, digitalisasi lambat, dan pembangunan melambat. Energi fosil tak bisa lagi diandalkan sepenuhnya karena harganya fluktuatif dan merusak iklim.
PLTN menawarkan solusi jangka panjang: daya besar dengan biaya operasional rendah, umur reaktor panjang (40–60 tahun), dan tidak tergantung cuaca.
Lebih jauh, penguasaan teknologi nuklir akan mendorong kemandirian nasional — dari rekayasa reaktor, produksi bahan bakar, hingga pengolahan limbah. Dengan kata lain, nuklir bukan sekadar teknologi energi, melainkan instrumen kedaulatan bangsa.
Menumbuhkan Kepercayaan Publik dan Akademisi
Meski begitu, keberhasilan proyek PLTN tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada penerimaan masyarakat.
Inilah pekerjaan rumah (PR) besar pemerintah: membangun NEPIO (Nuclear Energy Program Implementing Organization), lembaga nasional yang mengoordinasikan semua aspek program nuklir mulai dari regulasi, keamanan, pendidikan, hingga komunikasi publik.
Masyarakat perlu diberi pemahaman yang benar tentang apa itu nuklir, bagaimana ia bekerja, dan seberapa aman sistemnya. Akademisi lokal terutama di Bangka punya peran besar dalam hal ini. Melalui riset, kuliah umum, dan diseminasi ilmiah, kampus bisa menjadi jembatan antara sains dan masyarakat.
Jika publik memahami bahwa nuklir bukan ancaman, melainkan peluang, maka kepercayaan akan tumbuh. Dan dari kepercayaan itulah pembangunan bisa dimulai.
Harapan dari Kekuatan yang Pernah Ditakuti
Hari ini, dunia berada di titik balik peradaban energi. Saat banyak negara masih mencari cara mengurangi karbon tanpa mengorbankan pertumbuhan, energi nuklir muncul sebagai satu-satunya sumber daya yang kuat, bersih, dan berkelanjutan.
Bahkan lembaga seperti IAEA dan IPCC sepakat bahwa tanpa kontribusi nuklir, target global pengurangan emisi nyaris mustahil dicapai.
Indonesia punya kesempatan emas. Dengan membangun PLTN pertamanya pada 2032, negeri ini bisa memimpin Asia Tenggara dalam inovasi energi bersih bukan sebagai pengikut, tapi sebagai pelopor.
Dan yang lebih penting, kita bisa membuktikan bahwa kekuatan yang dulu ditakuti umat manusia kini bisa menjadi alat untuk menjaga kehidupan, bukan mengakhirinya.
Ilmu pengetahuan selalu bergerak melampaui ketakutan. Dulu manusia takut pada api, kini api menjadi cahaya dan penghangat. Dulu manusia takut pada listrik, kini listrik menjadi nadi dunia. Begitu pula nuklir kekuatan yang dulu dianggap gelap, kini bersinar sebagai cahaya masa depan.
Bangka Belitung, pulau yang dulu menambang timah, kini bersiap menambang ilmu. Dari pesisir timur itu, Indonesia akan menyalakan reaktor pertamanya bukan untuk menakuti dunia, tetapi untuk menyalakan harapan baru bagi bumi.
Kekuatan yang dulu menakutkan kini menjadi pelindung kehidupan. Energi yang dulu dikutuk kini menjadi simbol kemajuan. Dan bangsa yang berani mempercayai sainsnya sendiri itulah bangsa yang akan menyalakan masa depan.






