DETIKBABEL.COM, Berita Faktanews// – Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman yang kian cepat, ada satu profesi yang sejatinya tidak pernah mengenal kata pensiun: jurnalis.
Secara administratif mungkin ada batas usia. Secara struktural mungkin ada masa jabatan. Namun pada hakikatnya, menjadi jurnalis bukan sekadar pekerjaan yang berhenti ketika surat keputusan pensiun diterbitkan.
Ia adalah panggilan nurani yang terus hidup selama akal masih jernih dan tangan masih sanggup menulis.
Jurnalisme bukan profesi yang berdiri di atas rutinitas belaka. Ia dibangun di atas kepekaan, keberanian, serta tanggung jawab moral terhadap publik. Seorang jurnalis dilatih untuk melihat apa yang luput dari perhatian banyak orang, menggali fakta di balik peristiwa, dan menyuarakan kepentingan masyarakat luas. Kepekaan semacam ini tidak otomatis hilang ketika usia bertambah.
Justru pengalaman panjang sering kali membuat perspektif semakin matang dan tajam.
Dalam sejarah pers Indonesia, banyak sosok yang tetap aktif menulis hingga usia senja. Salah satunya adalah H. Darwis Akbar, yang mulai berkiprah sebagai wartawan sejak 1980 dan pensiun secara formal dari media pada 2012.
Kini, di usia 74 tahun, ia masih terus berkarya sebagai wartawan anggota biasa PWI dan mengelola empat media daring yang telah terverifikasi nasional.
Ia dikenal sebagai wartawan senior yang produktif, dengan karya-karya reflektif yang memiliki kedalaman pemikiran dan relevansi lintas zaman.
Mereka menunjukkan bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan sikap hidup.
Mengapa jurnalis tidak pernah benar-benar pensiun? Karena jurnalisme melekat pada cara berpikir. Seorang jurnalis akan tetap kritis terhadap kebijakan publik, tetap gelisah melihat ketidakadilan, dan tetap terdorong mencari kebenaran di tengah kabut opini.
Naluri itu tidak berhenti hanya karena usia bertambah.
Di era digital, batas usia kian kehilangan makna.
Ruang redaksi kini tidak lagi dibatasi gedung fisik.
Dengan perangkat sederhana dan akses internet, siapa pun yang memiliki kapasitas dan integritas dapat terus menulis dan menyampaikan gagasan. Banyak jurnalis yang secara formal telah pensiun dari perusahaan media, justru menemukan kebebasan baru untuk menulis opini, esai, dan analisis yang lebih mendalam tanpa tekanan komersial.
Pengalaman panjang menjadi modal besar yang tidak dimiliki semua orang. Jurnalis senior telah melewati berbagai fase sejarah: pergantian rezim, dinamika politik, krisis ekonomi, hingga transformasi teknologi. Mereka tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga memahami konteksnya.
Di sinilah nilai lebih itu berada. Perspektif yang lahir dari pengalaman panjang sering kali lebih jernih dan komprehensif dibanding sekadar kecepatan menyajikan berita.
Tentu, generasi muda memiliki keunggulan tersendiri: energi, inovasi, dan penguasaan teknologi. Namun jurnalisme bukan semata soal kecepatan. Ia juga tentang akurasi, etika, dan tanggung jawab. Kolaborasi lintas generasi menjadi kekuatan ideal.
Jurnalis muda membawa semangat dan kreativitas, sementara jurnalis senior menghadirkan kebijaksanaan dan kedalaman analisis. Keduanya tidak saling menggantikan, melainkan saling melengkapi.
Dalam konteks demokrasi, keberadaan jurnalis yang tetap aktif tanpa memandang usia merupakan aset penting. Demokrasi membutuhkan suara yang independen dan berani. Di tengah maraknya disinformasi, hoaks, dan polarisasi opini, pengalaman dan integritas menjadi benteng yang tak ternilai.
Jurnalis yang lama berkecimpung di dunia pers memahami betul arti verifikasi, keberimbangan, dan etika pemberitaan.
Menjadi jurnalis juga berarti membangun identitas. Banyak wartawan yang ketika ditanya siapa dirinya, tetap menjawab dengan bangga, “Saya jurnalis,” meski tidak lagi terikat pada institusi media tertentu. Identitas itu melekat dalam cara memandang realitas sosial.
Ia menjadi bagian dari kepribadian, bukan sekadar status pekerjaan.
Memang, secara fisik manusia memiliki batas. Energi mungkin tak lagi sekuat masa muda. Namun jurnalisme tidak selalu identik dengan kerja lapangan yang melelahkan.
Menulis opini, analisis, dan refleksi membutuhkan ketenangan serta kedalaman berpikir—sesuatu yang justru semakin matang seiring bertambahnya usia.
Selama masih ada ketidakadilan yang perlu disuarakan, selama masih ada kebijakan yang perlu dikritisi, dan selama masih ada fakta yang perlu diluruskan, maka peran jurnalis tetap dibutuhkan.
Pena—atau kini papan ketik—menjadi alat perjuangan yang tidak mengenal batas usia.
Pada akhirnya, jurnalisme adalah tentang komitmen pada kebenaran.
Ia bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pengabdian. Seseorang boleh saja pensiun dari jabatan, tetapi tidak dari nurani. Selama masih mampu menulis dan berkarya, selama idealisme belum padam, maka seorang jurnalis sejati tak pernah benar-benar pensiun.
Karena jurnalisme bukan tentang usia.
(R01-R12-Red-BFN)












