Detikbabel.com, Bangka — Kekecewaan warga Dusun 3 Serandang RT 11, Desa Batu Rusa, Kabupaten Bangka, akhirnya memuncak. Setelah bertahun-tahun melintasi jalan rusak tanpa kepastian perbaikan, masyarakat memilih turun tangan sendiri memperbaiki akses jalan lingkungan yang selama ini dikeluhkan.
Dengan dana swadaya dan semangat gotong royong, warga melakukan pengecoran di sejumlah titik jalan aspal yang berlubang dan rusak parah, Minggu (17/05/2026). Jalan yang selama ini menjadi akses utama aktivitas warga itu dinilai semakin membahayakan, terutama saat hujan turun dan permukaan jalan berubah licin berlumpur.
Tidak ada alat berat. Tidak ada proyek pemerintah. Hanya warga yang bahu-membahu membawa semen, pasir, batu split, hingga mencampur adukan cor secara manual demi menutup lubang-lubang di jalan yang selama ini mereka lalui setiap hari.
Aksi tersebut dilakukan setelah masyarakat merasa lelah menunggu realisasi perbaikan yang disebut-sebut pernah dijanjikan. Namun hingga kini, kondisi jalan disebut tetap memprihatinkan dan belum tersentuh penanganan berarti.
“Sudah lama rusak, kalau hujan makin parah dan licin. Banyak lubang yang membahayakan pengendara motor. Kami capek menunggu janji terus,” ujar seorang warga di sela kegiatan gotong royong.
Menurut warga, jalan tersebut merupakan jalur vital bagi masyarakat Dusun Serandang. Selain digunakan untuk aktivitas bekerja dan usaha warga, akses itu juga menjadi jalur harian anak-anak menuju sekolah.
Karena kondisi jalan dinilai semakin membahayakan, masyarakat akhirnya sepakat melakukan perbaikan secara mandiri menggunakan uang hasil iuran warga. Sebagian warga lainnya menyumbangkan material bangunan dan tenaga kerja secara sukarela.
Pantauan di lokasi, suasana gotong royong tampak begitu kuat. Warga dari berbagai usia terlihat saling membantu mengangkut material dan melakukan pengecoran sejak pagi hari.
“Kami tidak punya pilihan lain. Kalau menunggu terus, entah sampai kapan diperbaiki. Jadi kami sepakat gotong royong,” ungkap warga lainnya.
Kondisi ini sekaligus memperlihatkan masih lemahnya perhatian terhadap infrastruktur jalan lingkungan di kawasan permukiman warga. Padahal, masyarakat menilai akses tersebut memiliki peran penting dalam menunjang aktivitas ekonomi dan mobilitas sehari-hari.
Kekecewaan warga semakin terasa karena berbagai keluhan yang disampaikan sebelumnya disebut belum membuahkan hasil nyata. Warga mengaku selama ini lebih sering mendengar janji dibanding melihat pengerjaan di lapangan.
“Yang datang cuma janji. Sementara kami setiap hari lewat jalan rusak ini,” kata warga dengan nada kecewa.
Meski memilih bergerak secara mandiri, warga tetap berharap pemerintah daerah tidak menutup mata terhadap kondisi infrastruktur di Dusun 3 Serandang RT 11. Mereka berharap aksi swadaya masyarakat ini menjadi pengingat bahwa kebutuhan jalan layak merupakan hak dasar yang semestinya mendapat perhatian serius.
Solidaritas warga dalam memperbaiki jalan secara gotong royong pun menuai simpati masyarakat sekitar. Di tengah keterbatasan, warga Dusun Serandang menunjukkan bahwa kepedulian dan kebersamaan masih menjadi kekuatan utama saat harapan terhadap perbaikan tak kunjung datang. (Red/*)











