CEOR Minas: Nasionalisme Retorik, Reservoir Melawan

Advertisements
Advertisements

Oleh: Ustazul Chair

Praktisi Perminyakan, Warga Riau Bermukim di Kuwait

DETIKBABEL.COM, Gagasan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Lapangan Minas belakangan dielu-elukan sebagai “ujian keberanian energi nasional”. Diksinya megah, retorikanya patriotik, seolah injeksi kimia mampu menjadi jembatan ajaib menuju kedaulatan energi. Sayangnya, semangat nasionalisme itu justru menutupi fakta paling mendasar: CEOR bukan panggung slogan, melainkan medan tempur fisika, kimia, dan geologi yang kejam terhadap optimisme kosong.

Tulisan-tulisan pro-CEOR yang beredar lebih sibuk merangkai heroisme ketimbang membedah realitas reservoir. Padahal, dalam teknik perminyakan, reservoir tidak pernah membaca pidato, tidak memahami jargon kedaulatan, dan sama sekali tidak peduli pada semangat kebangsaan. Ia hanya tunduk pada hukum alam.

CEOR bukan satu teknologi tunggal. Ia adalah orkestrasi rumit antara polimer, surfaktan, dan alkali (ASP) yang harus dirancang sangat spesifik terhadap karakter reservoir.

Polimer bertugas memperbaiki mobility ratio.

Surfaktan menurunkan interfacial tension agar minyak terlepas dari jebakan pori.

Alkali bereaksi membentuk surfaktan in-situ.

Semua itu terjadi di skala mikro-pori, bukan di slide presentasi. Tanpa pemahaman mendalam tentang rock–fluid interaction, wettability, adsorpsi, serta degradasi kimia, CEOR tak lebih dari cairan mahal yang lenyap di perut bumi.

Namun aspek-aspek krusial ini nyaris absen dalam narasi heroik pro-CEOR. Seolah cukup mencampur bahan, memompa, lalu berharap nasionalisme bekerja sebagai katalis reaksi kimia.

Lapangan Minas bukan clean sandstone dalam tabung reaksi. Ia adalah lapangan tua dengan heterogenitas vertikal dan horizontal yang kompleks, penuh thief zone, channeling, dan warisan panjang waterflood.

Dalam kondisi seperti ini, tantangan CEOR bukan soal keberanian, melainkan : Adsorpsi surfaktan yang menggerus efektivitas,Degradasi polimer akibat temperatur, salinitas, dan shear,Jurang lebar antara hasil coreflood lab dan kenyataan reservoir.

Mengangkat CEOR sebagai simbol nasionalisme tanpa membahas risiko ini bukan keberanian. Itu perjudian teknis yang dibungkus retorika.

Sejarah global CEOR tidak pernah manis.

Daqing (Tiongkok), Pelican Lake (Kanada), Texas (AS) semuanya mencatat : Plugging dan scaling,Kehilangan injectivity,Trial and error puluhan tahun,Ekonomi yang hanya masuk akal saat harga minyak tinggi.

CEOR bukan one-shot solution. Tetapi dalam narasi pro-CEOR, kompleksitas ini disulap menjadi janji instan. Yang dirayakan bukan sains reservoir, melainkan optimisme yang dipoles agar terdengar patriotik.

Menjadikan CEOR sebagai simbol ketahanan energi nasional adalah cara elegan untuk menghindari pertanyaan paling tidak nyaman : Apakah incremental recovery sebanding dengan biaya kimia? Apakah full-field scaling realistis atau hanya berhenti di pilot? Apakah produksi tambahan benar-benar displaced oil atau sekadar accelerated production?

Pertanyaan ini tidak muncul bukan karena tidak penting, tetapi karena tidak enak bagi nasionalisme naratif.

Seorang Guru Besar Teknik Perminyakan ITB pernah mengingatkan:

EOR bukan hanya CEOR. Ada CO₂, smart water, hingga low salinity water.

Chemical EOR, katanya, adalah benda asing bagi reservoir. Ia bisa tidak kompatibel, bereaksi liar, bahkan merusak mekanisme yang diharapkan bekerja.

Satu tekanan, satu temperatur, satu komposisi kimia berubah sedikit saja, maka chemical-nya harus berbeda.

Inilah fakta yang jarang masuk slide seremoni.

Catatan Harian dari Sebuah Polimer

Saya lahir di laboratorium steril.

Di sana saya disebut solution. Grafik saya indah, semua tersenyum. Lalu saya turun ke lapangan. Saya bertemu kalsium, magnesium, besi. Mereka tidak membaca hasil coreflood. Mereka mengikat saya, mematikan saya di dekat perforasi.

Saya tidak gagal.

Saya hanya terlalu percaya reservoir akan berperilaku seperti laboratorium.

CEOR di Minas bukan ide memalukan. Ia mungkin senjata terakhir lapangan tua raksasa.Namun ia bukan simbol keberanian nasional.Ia adalah simbol kerendahan hati terhadap kompleksitas alam bawah tanah.

Keberanian sejati bukan berkata “ini pasti sukses”, melainkan berani mengakui:

Kami belum tahu apakah ini berhasil, dan kami siap diuji oleh data, bukan oleh narasi.

Jika CEOR dijalankan dengan disiplin ilmiah, transparansi kegagalan, dan kesabaran engineering, ia bisa menjadi warisan teknologi bangsa.

Namun jika hanya dijadikan alat glorifikasi, CEOR Minas akan dikenang bukan sebagai tonggak ketahanan energi, melainkan contoh bagaimana nasionalisme menutupi ketidaktahuan teknikal.