DETIKBABEL.COM, Oleh: Mahmud Marhaba
(Ketua Umum DPP PJS & Konten Kreator Jurnalistik)
SUMPAH SETIA WARTAWAN
(Menjaga Amanah dari Jalanan hingga Ruang Sidang)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hari ketujuh Ramadhan. Satu minggu sudah kita lalui bulan suci ini. Bagi sebagian besar umat, sahur adalah momen berkumpul dengan keluarga, menikmati hidangan hangat di meja makan rumah.
Namun tidak bagi sebagian rekan kita.
Malam ini, saya ingin membuka catatan dengan penghormatan mendalam kepada para Wartawan Lapangan. Mereka yang sahurnya di pinggir jalan, di dalam mobil liputan, di depan kantor polisi, atau di lokasi bencana. Mereka yang bangun lebih awal bukan untuk tadarus di rumah, tapi untuk mengejar berita pagi agar masyarakat tetap mendapat informasi.
Untuk kalian, para pejuang informasi yang jarang pulang karena liputan, saya ucapkan: Kalian luar biasa. Salam hormat dari saya.
Kamu Wartawan atau Buzzer?
Di era digital ini, ada kebingungan identitas yang meresahkan. Banyak orang yang mengaku “jurnalis” tapi perilakunya seperti buzzer. Sebaliknya, ada buzzer yang berlagak seperti jurnalis demi mendapat akses dan kredibilitas.
Mari kita tegaskan perbedaannya:
JURNALIS
* Terikat Kode Etik Jurnalistik (KEJ)
* Menyajikan fakta objektif
* Independen
* Bertanggung jawab ke publik
BUZZER/INFLUENCER
* Terikat kontrak endorse/pemesan
* Menyajikan opini/promosi berbayar
* Partisan/pesanan
* Bertanggung jawab ke klien
Jangan campur aduk! Jika Anda memilih jadi Jurnalis, patuhi KEJ dengan sepenuh hati. Jika Anda memilih jadi Buzzer, jangan pakai kartu pers dan jangan mengaku wartawan. Itu mencemari marwah profesi kami.
Di bulan Ramadhan ini, mari kita bersihkan identitas diri. Siapa kita sebenarnya? Pejuang kebenaran atau pedagang narasi?
HP-mu adalah Ladang Pahalamu
Berbicara soal media sosial, ada kabar gembiranya. Gawai (smartphone) yang ada di genggaman kita bisa menjadi ladang pahala yang luar biasa.
Bagaimana caranya?
* Share berita yang valid dan bermanfaat -> Itu sedekah informasi.
* Edukasi masyarakat tentang literasi media -> Itu jihad melawan kebodohan.
* Luruskan hoaks dengan data yang benar -> Itu amar ma’ruf nahi munkar versi digital.
* Jadikan akun media sosialmu sebagai corong kebenaran. Itu adalah dakwah bil qalam (dakwah dengan pena) di zaman now. Setiap share berita positif yang kau lakukan, insyaAllah mengalir pahalanya.
Bedah Pasal 7 KEJ: Hak Tolak dan Sumpah Setia
Malam ini kita masuk ke ranah yang sangat sakral dalam dunia jurnalistik: HAK TOLAK (Right to Refuse).
Pasal 7 Kode Etik Jurnalistik berbunyi:
“Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai dengan kesepakatan.”
Tahukah Anda, wartawan memiliki hak istimewa yang diakui hukum untuk menolak perintah polisi atau hakim yang memaksa membuka identitas narasumber? Ini bukan arogansi, ini adalah Sumpah Setia kami kepada sumber informasi.
Jika narasumber berkata, “Ini rahasia, Pak. Tolong jangan sebut nama saya,” dan kita menyetujuinya, maka HARAM hukumnya kita membocorkan identitasnya, apapun risikonya.
Dalam Islam, menjaga rahasia adalah bagian dari Amanah. Mengkhianati amanah adalah salah satu ciri orang munafik. Rasulullah SAW bersabda:
“Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari-Muslim)
Panduan Praktis Soal Off The Record
Untuk Wartawan: Jangan asal setuju off the record jika informasinya sangat penting bagi publik. Negosiasikan dulu. Tapi jika sudah sepakat, tutup mulut rapat-rapat. Lindungi narasumber Anda meski Anda harus masuk penjara karenanya.
Untuk Redaktur: Hormati keputusan wartawan Anda soal off the record. Jangan paksa mereka membongkar identitas narasumber.
Untuk Pemred: Pastikan redaksi Anda memahami bahwa Hak Tolak adalah hak konstitusional wartawan yang dilindungi UU Pers.
Penutup
Rekan-rekan jurnalis,
Berani memegang amanah adalah ciri wartawan ksatria.
Berani menolak tekanan demi melindungi narasumber adalah kemuliaan.
Berani memisahkan diri dari identitas buzzer adalah kejujuran.
Di penghujung minggu pertama Ramadhan ini, mari kita teguhkan niat: Kita adalah Jurnalis, bukan pedagang berita. Kita adalah Pemegang Amanah, bukan pengkhianat kepercayaan.
Selamat berbuka puasa.
Salam Kompeten!
Catatan Penulis :
Tulisan ini merupakan rangkuman intisari dari materi edukasi jurnalistik yang saya tayangkan secara visual (video reels) pada Hari Ketujuh Ramadhan.







