DETIKBABEL.COM, Denpasar, – Tulisan I Gusti Putu Artha dalam polemik BPJS PBI itu bukan sekadar pembelaan, itu sudah seperti siaran pers terselubung.
Alih-alih berdiri bersama publik yang kebingungan, Putu Artha memilih berdiri tegak di barisan pembela Wali Kota Denpasar. Itu pilihan politik, bukan posisi netral seorang yang mengaku objektif.
Maka wajar jika publik bertanya, ini analisis independen atau manuver membangun panggung?
Rekam jejak politiknya juga bukan rahasia. Gagal melaju ke Senayan pada Pemilu 2019, kembali mencoba peruntungan pada 2024 di daerah pemilihan Sulawesi Tengah. Kini muncul keras bersuara di Bali. Publik tentu berhak curiga, apakah ini murni kepedulian, atau sekadar strategi menaikkan popularitas?
Ironisnya, jika benar ingin dipercaya sebagai representasi rakyat, mengapa di daerah pemilihan sebelumnya kepercayaan itu tak kunjung terwujud? Masyarakat Sulawesi Tengah belum memberi mandat. Lalu dengan legitimasi apa ia merasa paling tahu membela kebijakan di Bali?
Membungkus pembelaan dengan dalih regulasi itu mudah. Tapi keberpihakan pada warga yang dirugikan, itu yang sulit.











